Rabu, 01 Mei 2019


Makalah :

Sejara  Desa Tualango Kecamatan Tilango Kabupaten Gorontalo.

Disusun Oleh :

Israwan Nurdin
451 417 010










UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN ILMU DAN TEKNOLOGI KEBUMIAN
PROGRAN STUDI S1 PENDIDIKAN GEOGRAFI





KATA PENGANTAR

            Puji syukur alhamdulillah kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena telah melimpahkan rahmat-Nya berupa kesempatan dan pengetahuan sehingga makalah ini bisa selesai pada waktunya.
            Terima kasih juga kami ucapkan kepada teman-teman yang telah berkontribusi dengan memberikan ide-idenya sehingga makalah ini bisa disusun dengan baik dan rapi.
            Kami berharap semoga makalah ini bisa menambah pengetahuan para pembaca. Namun terlepas dari itu, kami memahami bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, sehingga kami sangat mengharapkan kritik serta saran yang bersifat membangun demi terciptanya makalah selanjutnya yang lebih baik lagi.























DAFTAR PUTAKA

Kata Pengantar........................................................................... i
Daftar Isi..................................................................................... ii
BAB I Pendahuluan.................................................................... 1
1.1  Latar Belakang............................................................ 1
1.2  Rumusan Masalah ...................................................... 1
BAB II  PEMBAHASAN ........................................................... 2
2.1 Sejarah Desa Tualango Kecamatan Tilango Kabupaten Gorontalo... 2
2.2  Kebudayaan Dan Hubungan Keluarga.............................................. 3
BAB III PEN UTUP........................................................................................... 6
3.1 Kesimpulan.......................................................................................... 6
3.2 Saran.................................................................................................... 6
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................... 7




BAB I

PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
            Desa Tualango terbentuk sejak tahun 1908. Asal mula nama Desa Tualango diambil dari dua sungai yaitu, sebelah utara sungai buatan Tapodu dan sebelah selatan sungai Alam di kelurahan Lekobalo. Kedua sungai ini pada bagian muaranya bercabang dua dan pada bagian lainya kedua sungai ini menyatu karena kedua sungai ini bercabang dan dalam bahasa Gorontalo biasa di sebut TUTUWALANGA. Maka nama ini di pakai menjadi nama Desa atau disebut dengan Desa Tualango.
Kabupaten Gorontalo dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1959 tentang Pembentukan Daerah-daerah Tingkat II di Sulawesi dengan ibu kota di Isimu. Pada tahun 1978 ibu kota daerah ini dipindakan di Limboto.
            Berdasarkan penandatanganan perjanjian ikatan kekeluargaan u’dulowo lim lo pohalaa (kerjaan Gorontalo, kerjaan Limboto, Kerajaan Suwawa, Kerajaan Boalemo dan Kerjaan Atinggola), ditetapkan hari lahir Kabupaten Gorontalo pada tanggal 26 November 1673.
            Kabupaten Gorontalo memiliki luas wilayah 1.750,83 km², dengan jumlah penduduk terbanyak di Provinsi Gorontalo yakni sebanyak 355.988 jiwa atau 34,22% dari total penduduk.
            Setelah ditetapkannya Provinsi Gorontalo sebagai wilayah mekarran dari Sulawesi Utara pada tanggal 22 Desember 2000, daerah ini kemudian secara resmi menjadi bagian dari Provinsi Gorontalo.Kabupaten Gorontalo telah mengalami tiga kali pemekaran. Pemekaran pertama pada tahun 1999 yang melahirkan Kabupaten Boalemo, pemekaran ke dua pada tahun 2003 yang melahirkan Kabupaten Bone Bolango, dan terakhir pada tahun 2007 yang melahirkan Kabupaten Gorontalo Utara.
1.2  Rumusan masalah 
1.      Bagaimana Sejarah Desa Tualango Kecamatan Tilango Kabupaten Gorontalo?
2.      Bagaimana Kebudayaan Dan Hubungan Keluarga ?


BAB II
PEMBAHASAN

2.1   Sejarah Desa Tualango Kecamatan Tilango Kabupaten Gorontalo

             Desa Tualango terbentuk sejak tahun 1908. Asal mula nama Desa Tualango diambil dari dua sungai yaitu, sebelah utara sungai buatan Tapodu dan sebelah selatan sungai Alam di kelurahan Lekobalo. Kedua sungai ini pada bagian muaranya bercabang dua dan pada bagian lainya kedua sungai ini menyatu karena kedua sungai ini bercabang dan dalam bahasa Gorontalo biasa di sebut TUTUWALANGA. Maka nama ini di pakai menjadi nama Desa atau disebut dengan Desa Tualango.
             Demografi Desa Tualango memiliki luas wilayah ± 17 Ha didalam 4 dusun yaitu dusun Kuba, dusun Tilangge, dusun Tapodu dan dusun Alibotu. Pada aspek demografi pada tahun 2009 Desa Tualango memiliki penduduk sejumlah 943 jiwa. Dusun dengan jumlah penduduk terbanyak adalah dusun Tilangge yakni 263 jiwa, dusun Tapodu 253 jiwa kemudian dusun Kuba 243 jiwa dan dusun dengan jumlah penduduk terkecil adalah Alibotu dengan jumlah penduduk 202 jiwa.
             Secara Administratif Desa Tualango terletak diwilayah Kecamatan Tilango Kabupaten Gorontalo Provinsi Gorontalo.
Batas-batas Wilayah Tualango sebagai berikut :
1.      Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Dulomo
2.      Sebelah Selatan berbatasan dengan Kelurahan Lekobalo
3.      Sebelah Timur berbatasan dengan Kelurahan Piloloda’a
4.      Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Tilote.
Desa Tualango terdiri dari 4 dusun yaitu:
1.      Dusun Kuba dengan luas wilayah 9,20 Ha
2.      Dusun Tilangge dengan luas wilayah 9 Ha
3.      Dusun Tapodu dengan luas wilayah 28,50 Ha
4.      Dusun Ali Botu dengan luas wilayah 23,30 Ha

2.2  Kebudayaan Dan Hubungan Keluarga
            Kebudayaan pada desa tualango masih sangat kental, karena pada desa tualango masih menerapkan sistem kebudayaan yang jaman dulu dipercayan sampai sekarang. Desa Tualango ini, juga memiliki potensi alam yang cukup besar. Pada desa Tualango  ini penduduknya bermayoritas lansia, Berdasarkan hasil analisa data bivariat dengan menggunakan uji chi square didapatkan lansia yang memiliki dukungan keluarga baik serta memiliki sikap mandiri terdapat 9 responden dengan presentase 69%, lansia yang memiliki dukungan keluarga yang baik namun memiliki sikap ketergantungan terdapat 10 responden dengan presentase 56%, lansia yang memiliki dukungan keluarga kurang namun memiliki sikap mandiri terdapat 4 responden dengan presentase 31% dan untuk lansia yang memiliki dukungan keluarga kurang dan memiliki sikap ketergantungan terdapat 8 responden dengan presentase 44%.
            Secara teori lansia adalah akhir dari penuaan, tahap yang mengalami banyak perubahan fisik maupun mental. Dengan perubahan fisik lansia mengalami penurunan pendengaran dan penglihatan, lansia yang sehat secara mental yaitu lansia yang menyenangi aktivitas sehari-hari. Apabila kebutuhan tersebut bisa terpenuhi, maka timbullah angan-angan untuk berfikir dan berusaha untuk mencapai bagaimana bisa terpenuhi kebutuhan tersebut misalnya makan, pakaian, tempat tinggal dan kesehatan. Lansia bukanlah untuk mengembalikan perannya sebagai pencari nafkah, melainkan bagaimana mempersiapkan mereka untuk dapat menikmati ruas akhir dari kehidupannya dengan kemandirian yang maksimal. Bila kemandirian menolong diri sendiri tanpa bantuan telah tercapai, maka masih banyak lahan kegiatan untuk para usia lanjut yang masih dapat digalih dan dimunculkan. Mengenai pola mortalitas menunjukkan bahwa lansia yang tinggal bersama keluarga lebih mungkin untuk bertahan hidup dan mempertahankan kemandirian mereka di bandingkan mereka yang hidup sendiri. (Pickett, 2009).
            Mengenai hal ini, mengingat pentingnya peranan keluarga, maka keluarga mesti lebih kuat lagi dalam pelaksanaan tugas keluarga terutama terkait dengan lansia. Salah satu tugas keluarga adalah keluarga harus mampu mengenal masalah-masalah yang terjadi pada lansia. Kemampuan mengenal masalah ini membantu keluarga menghadapi masalah perilaku lansia dalam menjalankan aktivitasnya.        Keluarga hendaknya terus memberikan dukungan kepada anggota keluarga dan lansia. Dukungan yang diberikan bukan hanya motivasi tapi dukungan lain juga harus diberikan. Selain itu, keluarga juga hendaknya dapat menjadi fasilitator yang menjembatani antara lansia dengan lingkungan dan masyarakat. Seseorang ketika memasuki usia lanjut bukan berarti langsung meninggalkan kemandirian dalam aktivitasnya karena menganggap dirinya sudah tua. Kemandirian lansia dalam melakukan aktivitasnya harus terus dipelihara. Sebab menjadi lansia bukan berarti lemah tidak berdaya dan bergantung pada orang lain.
            Presentasi jumlah dukungan keluarga yang kurang lebih besar dari pada dukungan keluarga yang baik, dapat dikatakan bahwa dukungan keluarga terhadap lansia di Desa Tualango Kecamatan Tilango Kabupaten Gorontalo belum maksimal. dari dukungan keluarga terhadap lansia, dimana pada umumnya lansia memiliki dukungan kurang dari keluarga. Terlihat dari jawaban kuesioner mereka yang memiliki dukungan kurang, 54,8% responden menjawab tidak untuk Dukungan informasional seperti Keluarga mengingatkan lansia tentang hal-hal yang harus di hindari yang membuat lansia terserang penyakit, 58,0% responden           
            Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sartono (2012) di Wilayah Kerja Puskesmas Jalan Kembang Kota Cirebon dengan hasil dari 82 responden sebanyak 73 lansia memiliki dukungan keluarga yang baik dan 9 lansia yang memiliki dukungan keluarga kurang.
            Secara teoritis dukungan keluarga adalah suatu bentuk perilaku melayani yang dilakukan oleh keluarga baik dalam bentuk dukungan emosi, informasi, instrumental, dan dukungan penilaian. Dukungan sosial keluarga mengacu pada dukungan-dukungan yang dipandang oleh anggota keluarga sebagai suatu yang dapat diakses atau diadakan untuk keluarga. Dukungan bisa atau tidak digunakan tapi anggota keluarga memandang bahwa orang yang bersifat mendukung selalu siap memberikan pertolongan dan bantuan jika diperlukan.(Bomar, 2004)
            Dengan melihat ini, maka diperlukan dukungan dan keterlibatan keluarga serta perhatian keluarga terhadap kualitas hidup lansia agar makin lebih baik. Kebutuhan hidup lansia lainya dapat terpenuhi dengan baik melalui dukungan informasional seperti pemberian informasi, dukungan instrumental seperti bantuan materi, dukungan emosional seperti rasa kenyamanan dan dukungan penilaian seperti pemberian support







BAB III
PENUTUP

3.1  Kesimpulan
             Desa Tualango terbentuk sejak tahun 1908. Asal mula nama Desa Tualango diambil dari dua sungai yaitu, sebelah utara sungai buatan Tapodu dan sebelah selatan sungai Alam di kelurahan Lekobalo. Kedua sungai ini pada bagian muaranya bercabang dua dan pada bagian lainya kedua sungai ini menyatu karena kedua sungai ini bercabang dan dalam bahasa Gorontalo biasa di sebut TUTUWALANGA. Maka nama ini di pakai menjadi nama Desa atau disebut dengan Desa Tualango.
3.2  Saran
            Semoga makalah ini dapat menamba wawasan bagi para pembaca dan bermanfaat untuk kita semua.


















DAFTAR PUSTAKA
Sartono, 2012. Identifikan penetilian desa Bualalngo kecamatan tilango kabupaten
            Gorontalo.
Bomar, 2004. Teori dukungan keluarga lansia, Cirebon.
Pickett, 2009. Teori fisik lansia. buku Erlangga


MAKALAH RENCANA PEMBELAJARAN GEOGRAFI

BAB I PENDAHULUAN 1.1   Latar   Belakang Di sekolah, seorang guru sering memberikan ulangan harian, tes tertulis, dan sebagainya, is...