Makalah
:
Sejara Desa Tualango Kecamatan Tilango Kabupaten Gorontalo.
Disusun Oleh :
Israwan Nurdin
451 417 010

UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN
ALAM
JURUSAN ILMU DAN TEKNOLOGI KEBUMIAN
PROGRAN STUDI S1 PENDIDIKAN GEOGRAFI
KATA PENGANTAR
Puji syukur alhamdulillah kami panjatkan ke hadirat Tuhan
Yang Maha Esa, karena telah melimpahkan rahmat-Nya berupa kesempatan dan
pengetahuan sehingga makalah ini bisa selesai pada waktunya.
Terima kasih juga kami ucapkan kepada teman-teman yang
telah berkontribusi dengan memberikan ide-idenya sehingga makalah ini bisa
disusun dengan baik dan rapi.
Kami berharap semoga makalah ini bisa menambah
pengetahuan para pembaca. Namun terlepas dari itu, kami memahami bahwa makalah
ini masih jauh dari kata sempurna, sehingga kami sangat mengharapkan kritik
serta saran yang bersifat membangun demi terciptanya makalah selanjutnya yang
lebih baik lagi.
DAFTAR PUTAKA
Kata Pengantar........................................................................... i
Daftar Isi..................................................................................... ii
BAB I Pendahuluan.................................................................... 1
1.1 Latar Belakang............................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah ...................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN ........................................................... 2
2.1 Sejarah Desa Tualango Kecamatan Tilango
Kabupaten Gorontalo... 2
2.2 Kebudayaan Dan Hubungan Keluarga.............................................. 3
BAB III PEN UTUP........................................................................................... 6
3.1 Kesimpulan.......................................................................................... 6
3.2 Saran.................................................................................................... 6
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................... 7
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Desa
Tualango terbentuk sejak tahun 1908. Asal mula nama Desa Tualango diambil dari
dua sungai yaitu, sebelah utara sungai buatan Tapodu dan sebelah selatan sungai
Alam di kelurahan Lekobalo. Kedua sungai ini pada bagian muaranya bercabang dua
dan pada bagian lainya kedua sungai ini menyatu karena kedua sungai ini
bercabang dan dalam bahasa Gorontalo biasa di sebut TUTUWALANGA. Maka nama ini
di pakai menjadi nama Desa atau disebut dengan Desa Tualango.
Kabupaten Gorontalo dibentuk berdasarkan
Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1959 tentang Pembentukan Daerah-daerah Tingkat II
di Sulawesi dengan ibu kota di Isimu. Pada tahun 1978 ibu kota daerah ini
dipindakan di Limboto.
Berdasarkan
penandatanganan perjanjian ikatan kekeluargaan u’dulowo lim lo pohalaa (kerjaan
Gorontalo, kerjaan Limboto, Kerajaan Suwawa, Kerajaan Boalemo dan Kerjaan
Atinggola), ditetapkan hari lahir Kabupaten Gorontalo pada tanggal 26 November
1673.
Kabupaten
Gorontalo memiliki luas wilayah 1.750,83 km², dengan jumlah penduduk terbanyak
di Provinsi Gorontalo yakni sebanyak 355.988 jiwa atau 34,22% dari total
penduduk.
Setelah
ditetapkannya Provinsi Gorontalo sebagai wilayah mekarran dari Sulawesi Utara
pada tanggal 22 Desember 2000, daerah ini kemudian secara resmi menjadi bagian
dari Provinsi Gorontalo.Kabupaten Gorontalo telah mengalami tiga kali
pemekaran. Pemekaran pertama pada tahun 1999 yang melahirkan Kabupaten Boalemo,
pemekaran ke dua pada tahun 2003 yang melahirkan Kabupaten Bone Bolango, dan
terakhir pada tahun 2007 yang melahirkan Kabupaten Gorontalo Utara.
1.2 Rumusan masalah
1. Bagaimana Sejarah Desa Tualango Kecamatan Tilango
Kabupaten Gorontalo?
2. Bagaimana Kebudayaan Dan Hubungan
Keluarga ?
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1 Sejarah Desa
Tualango Kecamatan Tilango Kabupaten Gorontalo
Desa Tualango terbentuk sejak tahun 1908. Asal
mula nama Desa Tualango diambil dari dua sungai yaitu, sebelah utara sungai
buatan Tapodu dan sebelah selatan sungai Alam di kelurahan Lekobalo. Kedua
sungai ini pada bagian muaranya bercabang dua dan pada bagian lainya kedua
sungai ini menyatu karena kedua sungai ini bercabang dan dalam bahasa Gorontalo
biasa di sebut TUTUWALANGA. Maka nama ini di pakai menjadi nama Desa atau
disebut dengan Desa Tualango.
Demografi Desa Tualango memiliki luas wilayah
± 17 Ha didalam 4 dusun yaitu dusun Kuba, dusun Tilangge, dusun Tapodu dan
dusun Alibotu. Pada aspek demografi pada tahun 2009 Desa Tualango memiliki
penduduk sejumlah 943 jiwa. Dusun dengan jumlah penduduk terbanyak adalah dusun
Tilangge yakni 263 jiwa, dusun Tapodu 253 jiwa kemudian dusun Kuba 243 jiwa dan
dusun dengan jumlah penduduk terkecil adalah Alibotu dengan jumlah penduduk 202
jiwa.
Secara
Administratif Desa Tualango terletak diwilayah Kecamatan Tilango Kabupaten
Gorontalo Provinsi Gorontalo.
Batas-batas Wilayah Tualango sebagai
berikut :
1.
Sebelah Utara
berbatasan dengan Desa Dulomo
2.
Sebelah Selatan
berbatasan dengan Kelurahan Lekobalo
3.
Sebelah Timur
berbatasan dengan Kelurahan Piloloda’a
4.
Sebelah Barat
berbatasan dengan Desa Tilote.
Desa Tualango terdiri dari 4 dusun yaitu:
1.
Dusun Kuba dengan
luas wilayah 9,20 Ha
2.
Dusun Tilangge
dengan luas wilayah 9 Ha
3.
Dusun Tapodu
dengan luas wilayah 28,50 Ha
4.
Dusun Ali Botu
dengan luas wilayah 23,30 Ha
2.2 Kebudayaan Dan Hubungan Keluarga
Kebudayaan
pada desa tualango masih sangat kental, karena pada desa tualango masih
menerapkan sistem kebudayaan yang jaman dulu dipercayan sampai sekarang. Desa
Tualango ini, juga memiliki potensi alam yang cukup besar. Pada desa
Tualango ini penduduknya bermayoritas
lansia, Berdasarkan hasil analisa data bivariat dengan menggunakan uji chi
square didapatkan lansia yang memiliki dukungan keluarga baik serta
memiliki sikap mandiri terdapat 9 responden dengan presentase 69%, lansia yang
memiliki dukungan keluarga yang baik namun memiliki sikap ketergantungan
terdapat 10 responden dengan presentase 56%, lansia yang memiliki dukungan
keluarga kurang namun memiliki sikap mandiri terdapat 4 responden dengan
presentase 31% dan untuk lansia yang memiliki dukungan keluarga kurang dan
memiliki sikap ketergantungan terdapat 8 responden dengan presentase 44%.
Secara
teori lansia adalah akhir dari penuaan, tahap yang mengalami banyak perubahan
fisik maupun mental. Dengan perubahan fisik lansia mengalami penurunan
pendengaran dan penglihatan, lansia yang sehat secara mental yaitu lansia yang
menyenangi aktivitas sehari-hari. Apabila kebutuhan tersebut bisa terpenuhi,
maka timbullah angan-angan untuk berfikir dan berusaha untuk mencapai bagaimana
bisa terpenuhi kebutuhan tersebut misalnya makan, pakaian, tempat tinggal dan
kesehatan. Lansia bukanlah untuk mengembalikan perannya sebagai pencari nafkah,
melainkan bagaimana mempersiapkan mereka untuk dapat menikmati ruas akhir dari
kehidupannya dengan kemandirian yang maksimal. Bila kemandirian menolong diri
sendiri tanpa bantuan telah tercapai, maka masih banyak lahan kegiatan untuk
para usia lanjut yang masih dapat digalih dan dimunculkan. Mengenai pola
mortalitas menunjukkan bahwa lansia yang tinggal bersama keluarga lebih mungkin
untuk bertahan hidup dan mempertahankan kemandirian mereka di bandingkan mereka
yang hidup sendiri. (Pickett, 2009).
Mengenai hal ini, mengingat
pentingnya peranan keluarga, maka keluarga mesti lebih kuat lagi dalam
pelaksanaan tugas keluarga terutama terkait dengan lansia. Salah satu tugas
keluarga adalah keluarga harus mampu mengenal masalah-masalah yang terjadi pada
lansia. Kemampuan mengenal masalah ini membantu keluarga menghadapi masalah
perilaku lansia dalam menjalankan aktivitasnya. Keluarga hendaknya terus memberikan dukungan kepada anggota
keluarga dan lansia. Dukungan yang diberikan bukan hanya motivasi tapi dukungan
lain juga harus diberikan. Selain itu, keluarga juga hendaknya dapat menjadi
fasilitator yang menjembatani antara lansia dengan lingkungan dan masyarakat.
Seseorang ketika memasuki usia lanjut bukan berarti langsung meninggalkan
kemandirian dalam aktivitasnya karena menganggap dirinya sudah tua. Kemandirian
lansia dalam melakukan aktivitasnya harus terus dipelihara. Sebab menjadi
lansia bukan berarti lemah tidak berdaya dan bergantung pada orang lain.
Presentasi
jumlah dukungan keluarga yang kurang lebih besar dari pada dukungan keluarga
yang baik, dapat dikatakan bahwa dukungan keluarga terhadap lansia di Desa
Tualango Kecamatan Tilango Kabupaten Gorontalo belum maksimal. dari dukungan
keluarga terhadap lansia, dimana pada umumnya lansia memiliki dukungan kurang
dari keluarga. Terlihat dari jawaban kuesioner mereka yang memiliki dukungan
kurang, 54,8% responden menjawab tidak untuk Dukungan informasional seperti
Keluarga mengingatkan lansia tentang hal-hal yang harus di hindari yang membuat
lansia terserang penyakit, 58,0% responden
Penelitian
ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sartono (2012) di Wilayah
Kerja Puskesmas Jalan Kembang Kota Cirebon dengan hasil dari 82 responden
sebanyak 73 lansia memiliki dukungan keluarga yang baik dan 9 lansia yang
memiliki dukungan keluarga kurang.
Secara
teoritis dukungan keluarga adalah suatu bentuk perilaku melayani yang dilakukan
oleh keluarga baik dalam bentuk dukungan emosi, informasi, instrumental, dan
dukungan penilaian. Dukungan sosial keluarga mengacu pada dukungan-dukungan
yang dipandang oleh anggota keluarga sebagai suatu yang dapat diakses atau
diadakan untuk keluarga. Dukungan bisa atau tidak digunakan tapi anggota
keluarga memandang bahwa orang yang bersifat mendukung selalu siap memberikan
pertolongan dan bantuan jika diperlukan.(Bomar, 2004)
Dengan
melihat ini, maka diperlukan dukungan dan keterlibatan keluarga serta perhatian
keluarga terhadap kualitas hidup lansia agar makin lebih baik. Kebutuhan hidup
lansia lainya dapat terpenuhi dengan baik melalui dukungan informasional
seperti pemberian informasi, dukungan instrumental seperti bantuan materi,
dukungan emosional seperti rasa kenyamanan dan dukungan penilaian seperti
pemberian support
BAB
III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Desa Tualango terbentuk sejak tahun 1908. Asal
mula nama Desa Tualango diambil dari dua sungai yaitu, sebelah utara sungai
buatan Tapodu dan sebelah selatan sungai Alam di kelurahan Lekobalo. Kedua
sungai ini pada bagian muaranya bercabang dua dan pada bagian lainya kedua
sungai ini menyatu karena kedua sungai ini bercabang dan dalam bahasa Gorontalo
biasa di sebut TUTUWALANGA. Maka nama ini di pakai menjadi nama Desa atau
disebut dengan Desa Tualango.
3.2 Saran
Semoga
makalah ini dapat menamba wawasan bagi para pembaca dan bermanfaat untuk kita
semua.
DAFTAR
PUSTAKA
Sartono, 2012. Identifikan penetilian desa Bualalngo kecamatan tilango kabupaten
Gorontalo.
Bomar, 2004. Teori dukungan keluarga lansia, Cirebon.
Pickett, 2009. Teori fisik lansia. buku Erlangga